05 Oct 2026 Humas Berita Dibaca 28 kali

Unkhair dan Confucius Institute Perkuat Pengembangan SDM Maluku Utara

Unkhair dan Confucius Institute Perkuat Pengembangan SDM Maluku Utara

UNKHAIR, Universitas Khairun (Unkhair) dan Confucius Institute Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat komitmen kolaborasi dalam mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia di Maluku Utara melalui dua inisiatif yang saling melengkapi, yakni Mandarin Corner di Universitas Khairun dan Weda Intensive Language Learning Village (WILL Village) di Weda, Halmahera Tengah.

Kedua inisiatif tersebut dikembangkan sebagai respons terhadap perubahan lingkungan sosial, pendidikan, dan ekonomi di Maluku Utara yang semakin terbuka. Meningkatnya aktivitas industri dan interaksi masyarakat dengan berbagai mitra internasional menghadirkan kebutuhan baru terhadap kemampuan komunikasi, keterampilan digital, kompetensi profesional, serta pemahaman lintas budaya.

Dalam konteks tersebut, Unkhair dan Confucius Institute memiliki pandangan yang sama bahwa penguatan kapasitas masyarakat perlu dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan daerah. Pengembangan kemampuan Bahasa Mandarin menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut, berdampingan dengan penguatan Bahasa Inggris, literasi digital, kecakapan profesional, dan berbagai keterampilan lain yang dibutuhkan masyarakat.

Mandarin Corner: Membangun Ekosistem Pembelajaran di Unkhair

Di lingkungan Universitas Khairun, kerja sama diarahkan pada pengembangan Mandarin Corner sebagai langkah awal membangun ekosistem pembelajaran bahasa dan budaya di perguruan tinggi.

Mandarin Corner tidak dirancang hanya sebagai ruang belajar bahasa, tetapi sebagai ruang interaksi dan pengembangan kapasitas yang dapat berkembang secara bertahap. Pada tahap berikutnya, inisiatif ini diharapkan dapat mendukung penguatan mata kuliah pilihan Bahasa Mandarin, kegiatan kebudayaan, pertukaran akademik, mobilitas mahasiswa, serta pengembangan kapasitas pengajar.

Confucius Institute Unhas bersama mitra akademiknya, termasuk Nanchang University, dapat memberikan kontribusi dalam pengajaran bahasa, pengenalan budaya, komunikasi lintas budaya, dan pengembangan jejaring akademik internasional. Pada saat yang sama, dunia industri dapat memberikan perspektif mengenai kebutuhan kompetensi dan komunikasi yang relevan dengan perkembangan lingkungan kerja.

Sebelumnya, Confucius Institute Unhas bersama pengajar dari Nanchang University juga telah melakukan kunjungan ke Universitas Khairun sebagai bagian dari penjajakan kerja sama di bidang pendidikan bahasa, kebudayaan, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Rektor Unkhair, Prof. Dr. Abdullah W. Jabid, SE., M. M, mengatakan bahwa penguatan kemampuan bahasa perlu ditempatkan dalam konteks kebutuhan masyarakat yang lebih luas.

“Bahasa Indonesia tetap menjadi fondasi utama kita. Namun, ketika lingkungan kita berubah dan menghadirkan peluang-peluang baru, kita juga perlu memiliki kemampuan tambahan agar dapat berkomunikasi dan mengambil bagian dalam peluang tersebut,” ujarnya.

WILL Village: Menjawab Kebutuhan Masyarakat di Weda

Sementara itu, WILL Village memiliki fokus yang berbeda. Program ini dirancang untuk dikembangkan di Weda, Halmahera Tengah, sebagai model penguatan kapasitas masyarakat yang merespons perubahan sosial dan ekonomi akibat berkembangnya kawasan industri.

WILL Village tidak diarahkan sebagai program pembelajaran Mandarin semata. Program ini dirancang dengan cakupan yang lebih luas, meliputi Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, literasi AI, keterampilan komputer dan digital, pengembangan keterampilan profesional, serta pengenalan dan penguatan UMKM yang dapat terhubung dengan perkembangan ekonomi dan industri di wilayah tersebut.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan komunikasi, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat mendukung kesiapan kerja, pengembangan usaha, akses terhadap informasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan ekonomi.

Dibahas Bersama Dunia Industri

Sebagai bagian dari pengembangan WILL Village, Unkhair telah melakukan kunjungan ke PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan bertemu langsung dengan pihak IWIP serta Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah untuk membahas kebutuhan kompetensi masyarakat dan kemungkinan keterlibatan industri dalam pengembangan program.

Pertemuan tersebut diarahkan untuk mendapatkan masukan mengenai kebutuhan keterampilan, karakteristik kompetensi yang dibutuhkan di lingkungan kerja, peluang pelatihan, serta bentuk dukungan yang memungkinkan diberikan oleh industri dan pemerintah daerah.

Dengan demikian, WILL Village diharapkan tidak dibangun hanya dari perspektif akademik, tetapi juga berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan perkembangan dunia industri di Halmahera Tengah.

Mengembangkan Model Pentahelix

WILL Village dirancang dengan pendekatan pentahelix yang mempertemukan pemerintah, dunia industri, perguruan tinggi, mitra pengetahuan dan internasional, serta masyarakat.

Dalam model ini, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah dapat berperan dalam kebijakan, fasilitasi, dan pemetaan kebutuhan masyarakat. Dunia industri memberikan perspektif kebutuhan kompetensi serta dukungan terhadap pengembangan kapasitas. Unkhair berperan dalam pengembangan program, kurikulum, tenaga pengajar, dan evaluasi. Confucius Institute bersama mitra akademik internasional dapat mendukung aspek bahasa, budaya, dan pengembangan kapasitas. Sementara masyarakat menjadi penerima manfaat sekaligus bagian penting dalam menentukan kebutuhan program.

Model tersebut diharapkan dapat memastikan bahwa program yang dikembangkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi memiliki keterkaitan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan peluang yang tersedia di daerah.

Dari Kemampuan Bahasa Menuju Penguatan Kapasitas Masyarakat

Bagi Unkhair dan Confucius Institute, pengembangan Mandarin Corner dan WILL Village pada dasarnya memiliki tujuan yang lebih luas daripada pembelajaran bahasa.

Bahasa dipandang sebagai salah satu instrumen untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, pekerjaan, jejaring, pengetahuan, dan peluang kerja sama. Namun, kemampuan bahasa perlu berjalan bersama kompetensi lain agar masyarakat memiliki kapasitas yang lebih utuh dalam menghadapi perubahan.

“Yang ingin kita bangun bukan sekadar kemampuan berbahasa. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memiliki kapasitas untuk memahami perubahan, berkomunikasi dengan berbagai pihak, meningkatkan keterampilan, dan mengambil bagian dalam peluang yang muncul di daerahnya sendiri,” ungkap Rektor.

Melalui Mandarin Corner, Unkhair berupaya membangun fondasi ekosistem pembelajaran dan pengembangan kapasitas di lingkungan perguruan tinggi. Sementara melalui WILL Village, gagasan tersebut dikembangkan lebih jauh untuk menjangkau masyarakat di Weda dengan pendekatan yang lebih luas dan berbasis kebutuhan lokal.

Kedua inisiatif tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan bahwa masyarakat Maluku Utara tidak hanya menjadi penerima dampak dari perubahan yang berlangsung, tetapi juga memiliki kapasitas untuk memahami, merespons, dan mengambil peran dalam perubahan tersebut.

Pada akhirnya, pengembangan kemampuan bahasa, literasi digital, keterampilan profesional, dan kapasitas lainnya diarahkan pada satu tujuan yang lebih besar, yaitu memperkuat kualitas sumber daya manusia dan memperluas kesempatan masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik di tengah perubahan yang berlangsung di Maluku Utara. (*)

Laporan: Chessa |Editor: Polo |Foto: Chessa

Â