30 Sep 2026 Humas News Read 26 times

Perkuat Green Leadership, FEB Unkhair Bentuk Kader Lingkungan di Tobololo

Perkuat Green Leadership, FEB Unkhair Bentuk Kader Lingkungan di Tobololo

UNKHAIR, Kepedulian terhadap lingkungan didorong menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar kerja bakti menjelang perlombaan.

Pesan itu bagian dari kegiatan pengabdian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun (FEB Unkhair) melalui program Penguatan Green Leadership di Kelurahan Tobololo, Kecamatan Ternate Barat, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan diawali penandatanganan kerja sama antara FEB Unkhair, dan Pemerintah Kelurahan Tobololo, serta ditutup dengan penyerahan rompi kepada kader lingkungan yang dibentuk dalam program tersebut.

Kerja sama ditandatangani Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FEB Unkhair, Dr. Marwan Man Soleman, S.E., M.Si, mewakili Dekan FEB, bersama Lurah Tobololo, Hidayat Aba.

Melalui kerja sama itu, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan, Manajemen, dan Akuntansi akan menjalani magang berdampak di Tobololo selama tiga tahun. Program itu juga mencakup penelitian dan pengabdian dosen.

"Kerja sama ini menjadi payung agar kehadiran kampus di Tobololo tidak berhenti pada satu kegiatan," ujar Marwan.

Pelatihan dan workshop diikuti aparatur kelurahan, ketua RT dan RW, tokoh agama dan adat, PKK, serta pemuda. Materi disampaikan empat dosen FEB Unkhair, yakni Dr. Marwan Man Soleman, S.E., M.Si, Jeri Cahyadi Saputra, S.Ak., M.Si., Zandi Pratama, S.E., M.Si., dan Faradisa Bachmid, S.E., M.M.

Marwan mengatakan, persoalan lingkungan tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan sarana atau aturan, tetapi juga kebiasaan dan kepemimpinan yang belum terbentuk secara kuat.

"Lingkungan Tobololo tidak berubah karena aturan, tetapi karena orang yang memimpinnya," katanya.

Ia menjelaskan tiga pilar green leadership, yakni keteladanan, kewajiban moral menjaga lingkungan, dan terciptanya suasana kerja yang menghargai kepedulian terhadap lingkungan.

Jeri Cahyadi mengajak aparatur memulai perubahan dari lingkungan kantor, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam rapat, serta terlibat langsung dalam kerja bakti.

Peserta juga mengikuti diskusi kasus dan simulasi untuk menghadapi warga yang belum bersedia terlibat dalam kegiatan lingkungan.

Sementara, Zandi Pratama mendorong perubahan program lingkungan dari sekadar berbasis kegiatan menjadi berbasis sistem. Program perlu memiliki jadwal dan pembagian peran yang jelas agar tetap berjalan meski terjadi pergantian pimpinan.

Faradisa kemudian memandu peserta merumuskan nilai bersama, di antaranya "bersih itu kehormatan", serta menyusun rencana aksi selama tiga bulan.

Peserta juga mengusulkan Hari Lingkungan Tobololo yang dilaksanakan setiap Jumat pertama setiap bulan.

Kader lingkungan yang dibentuk berasal dari unsur pemuda, PKK, tokoh masyarakat, dan perwakilan RT. Mereka bertugas mengingatkan warga, memetakan titik rawan sampah, serta menyusun laporan sederhana setiap bulan.

Lurah Tobololo, Hidayat Aba, mengatakan pemerintah kelurahan siap melanjutkan program tersebut bersama masyarakat.

"Kami siap melanjutkan dan menjaga keberlanjutan program ini. Apa yang sudah dipelajari akan kami terapkan dalam aktivitas kelurahan dan diteruskan bersama warga agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi kebiasaan dan bagian dari tanggung jawab bersama," ujar Hidayat.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta. Rata-rata skor pengetahuan dan sikap meningkat dari 6,5 pada pre-test menjadi 13,7 pada post-test, dengan rata-rata N-Gain 83 persen.

Capaian tersebut melampaui target program sebesar 70 persen. Peningkatan terbesar terlihat pada pemahaman peserta mengenai green leadership dan iklim psikologis. (*)

Penulis: Polo |Foto: FEB Unkhair