25 Sep 2026 Humas News Read 38 times

PKM FEB Unkhair Dorong Tata Kelola Rantai Pasok Kelapa

PKM FEB Unkhair Dorong Tata Kelola Rantai Pasok Kelapa

UNKHAIR, Petani kelapa di Desa Dokulamo, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, didorong tidak lagi bergantung pada penjualan kopra.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun (FEB Unkhair) mengenalkan strategi hilirisasi kelapa untuk meningkatkan nilai tambah, dan memperbesar pendapatan yang dapat dinikmati petani di tingkat desa.

Edukasi manajemen rantai pasok berbasis potensi lokal itu digelar di gudang pengolahan kelapa milik mitra, Jumat (25/9/2026). Kegiatan merupakan bagian dari Program Diktisaintek Berdampak 2026 dan diikuti 20 peserta, terdiri dari petani kelapa, pemuda desa, serta pengelola usaha kelapa.

PKM FEB diketuai Dr. Marwan Man Soleman, S.E., M.Si, bersama anggota Jeri Cahyadi Saputra, S.Ak., M.Si, dan Adysabzan Tomario Krois, MBA.

Tim juga melibatkan empat mahasiswa Program Studi Manajemen FEB Unkhair, yakni Meliza Amelia Putri, Eka Susilawati Said, Arman Husemahu, dan Faruk Duwila.

Galela merupakan salah satu daerah penghasil kelapa di Maluku Utara. Namun, sebagian besar hasil kebun masih dijual dalam bentuk kelapa butir dan kopra.

Kondisi itu membuat petani menghadapi harga yang berfluktuasi dan bergantung pada pembeli. Di sisi lain, rantai penjualan yang panjang—petani, pengumpul, pedagang antar pulau hingga pabrik membuat nilai tambah lebih banyak dinikmati di luar desa.

"Setiap tahap mengambil untung, sehingga petani hanya menerima sebagian kecil dari harga akhir. Nilai tambah dari pengolahan lebih banyak dinikmati oleh pihak lain di luar desa," ujar Adysabzan.

Menurutnya, kelapa Galela memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar jika tidak berhenti sebagai kopra.

Daging kelapa dapat diolah menjadi minyak dan Virgin Coconut Oil (VCO), tempurung menjadi briket, sabut menjadi cocopeat, nira bunga kelapa menjadi gula semut, sedangkan air kelapa muda dapat diolah menjadi nata de coco.

"Satu pohon kelapa itu banyak produknya. Makin banyak bagian kelapa yang diolah sendiri, makin besar bagian nilai yang tinggal di desa," kata Adysabzan.

Karena itu, tim PKM FEB Unkhair memperkenalkan pengelolaan rantai pasok, mulai dari kebun hingga pembeli. Petani didorong tidak hanya memperbaiki kualitas kopra, tetapi juga memperkuat posisi tawar dan mulai mengembangkan produk turunan.

Ada lima langkah yang ditawarkan, yakni membentuk kelompok tani, menjaga standar mutu kopra, mengembangkan produk seperti VCO dan briket, membangun kemitraan langsung dengan pembeli besar, serta memantau harga dan mencatat hasil penjualan melalui telepon seluler.

Pada sesi diskusi, peserta mengungkapkan sebagian besar kopra masih dijual kepada pengumpul dengan harga yang ditentukan pembeli. Pencatatan biaya dan hasil penjualan serta perbandingan harga di luar desa juga belum menjadi kebiasaan.

Dari diskusi itu, briket dan VCO menjadi dua produk yang paling diminati untuk dikembangkan karena bahan bakunya tersedia dan sebagian peralatan pengolahan telah tersedia di gudang mitra.

Anggota PKM, Jeri Cahyadi Saputra, mengatakan program tersebut akan dilanjutkan dengan pendampingan bertahap.

"Satu sampai tiga bulan ke depan kami mendorong penguatan kelompok tani, kesepakatan standar mutu kopra, dan pembukuan sederhana. Tiga hingga enam bulan berikutnya uji coba pengolahan VCO dan briket skala kecil, termasuk uji pasar di Galela dan Tobelo," jelasnya.

Selanjutnya, tim PKM FEB akan membantu menghubungkan kelompok tani dengan pembeli, maupun industri pengolahan melalui pendampingan.

Program ini bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus memberi ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan secara langsung di masyarakat. (*)

Penulis: Polo |Foto: PKM FEB Unkhair